Thursday, July 22, 2004

Per Juni 2004, Pendapatan Telkomsel Naik 37%

Hingga saat ini total pelanggan Telkomsel mencapai sekitar 12,5 juta. Dalam beberapa tahun kedepan, perseroan optimistis perkembangan tetap tinggi, karena penetrasi seluler di Indonesia dinilai masih rendah.

JAKARTA-Per Juni 2004, PT Telkomsel membukukan kenaikan pendapatan hingga 37% dibandingkan periode yang sama tahun 2003. Tercatat, pendapatan tersebut 102% dari target yang ditetapkan perseroan per semester pertama 2004 ini.
“Kenaikan ini, disebabkan, salah satunya, karena kenaikan jumlah pelanggan,” kata Bajoe Narbito, Direktur Utama PT Telkomsel, kepada wartawan, kemarin (21/7), di Jakarta.
Hingga akhir pertengahan tahun 2004, perseroan telah berhasil menggaet tambahan pelanggan sebanyak 2,9 juta atau separuh lebih dari target sepanjang tahun yang sebesar 5 juta pelanggan. Menurut Bajoe, pencapaian pelanggan separuh lebih tersebut merupakan satu strategi perusahaan dalam mendongkrak pendapatan. “Kami selalu berupaya agar semester I banyak pelanggan, sebab, kalau kita banyak pelanggan di bulan Desember, nanti belum bisa menghasilkan uang,” kata Bajoe.
Dengan adanya tambahan di atas, hingga saat ini total pelanggan Telkomsel mencapai sekitar 12,5 juta. Dalam beberapa tahun kedepan, perseroan optimistis perkembangan tetap tinggi, karena penetrasi seluler di Indonesia dinilai masih rendah. “Jumlah pelanggan seluler seluruhnya hanya sekitar 22 juta, sehingga hanya sekitar 10% dibandingkan jumlah penduduk yang sebesar 220 juta,” katanya.
PT Telkomsel selama tahun buku 2003 mencatat pendapatan bersih sebesar Rp 4,237 triliun, naik 52% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sedang total pendapatan operasional tercatat Rp 11,146 triliun. Akhir 2003, Telkomsel telah melayani 9,6 juta pelanggan (sekitar 1 juta merupakan pelanggan kartu HALO (pasca bayar) dan sisanya pengguna Simpati (pra bayar). Hal ini berarti telah terjadi penambahan jumlah pelanggan baru sekitar 3,6 juta dari sebelumnya 6 juta pelanggan di akhir 2002.
Realisasi Capex
Terkait belanja modal (capital expenditure) yang tahun ini dianggarkan sebanyak US$ 600 juta , hingga pertengahan tahun ini, perseroan mengaku telah merealisaikan sebanyak US$ 250 juta. Dana itu terutama dialokasikan untuk peningkatan infrastruktur dalam hal perluasan coverage dan kapasitas jaringan. Tahun ini, perseroan telah membangun sekitar 1.400 hingga 1.500 base tranceiver station (BTS) baru.

Gandeng BCA
kemarin PT Telkomsel dan PT Bank Cetral Asia Tbk, telah menandatangani kerjasama layanan mobile banking m-BCA Telkomsel. Dengan layanan ini, diharapkan pelanggan Telkomsel yang sekaligus nasabah BCA dapat menikmati fasilitas untuk melakukan berbagai transaksi perbankan BCA melalui ponsel dengan kartu seluler Telkomsel.
“Kerjasama ini, merupakan sesuatu nilai tambah bagi peningkatan dan kemudahan pelayanan pelanggan dan nasabah dari kedua perusahaan,” kata Bajoe.
Disisi lain, D.E. Setijoso, Presiden Direktur BCA mengatakan bergabungnya Telkomsel telah membuat jaringan mobile banking BCA semakin luas. Sehingga, lebih banyak nasabah BCA yang bisa menggunakan layanan ini. “BCA ingin memberikan convenient dalam sistem pembayaran,” kata Setijoso, kemarin.
Lebih lanjut, Telkomsel merupakan pelopor layanan mobile banking sejak tahun 2000. kini perseroan telah bekerjasama dengan 8 bank, yakni Bank Bni, Bank mandiri, Bank Danamon, Bank Panin, Bank Buana, HSBC, dan Citibank. Kini pelanggan Telkomsel yang telah menikmati mobile banking sekitar 175.000 pelanggan dan adanya kerjasama dengan BCA, diharapkan angka itu akan bertambah menjadi 225.000 pelanggan.

Agak Terlambat
Diakui kedua perusahaan, kalau kerjasama tersebut dinilai agak terlambat. Menurut Setijoso, hal itu terjadi karena kehati-hatian BCA. Perseroan yang kini memiliki 6 juta rekening mengatakan sangat memperhitungkan risiko bila terjadi masalah, dalam melakukan bekerjasama dengan Telkomsel yang merupakan market leader di bisnis seluler. “Kalau kerjasama dilakukan langsung raksasa, nanti kalau terjadi sesuatu sulit diatasi,” kata Setijoso.
Sedangkan, menurut Bajoe, keterlambatan kerjasama terjadi karena pihaknya mmbutuhkan persiapan dalam menjalani langkah kerjasa dengan BCA yang memiliki karakter unik. “Perseroan membutuhkan waktu banyak untuk melakukan integrasi,” ujarnya. (tri)



0 Comments:

Post a Comment

<< Home