Tuesday, January 23, 2007

Pertengahan 2007, Telkom Pilih Operator Satelit

Jakarta- PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) kini menjajaki produsen satelit Cina dan Rusia, sebelum memesan satelit Telkom-3.
"Kami akan memutuskan operator mana yang dipilih pada pertengahan 2007," tutur Direktur Utama (Dirut) Telkom Arwin Rasyid kepada Investor Daily, di Jakarta, belum lama ini.
Menurut Arwin, hingga kini Telkom telah meluncurkan sembilan satelit. Tujuh di antaranya telah habis masa orbit. Dua satelit yang aktif adalah Telkom 1 dan Telkom 2 yang diluncurkan pada November 2005.
"Untuk satelit yang ke-10 ini sudah saatnya kami beralih ke Cina atau Rusia. Harganya jauh lebih murah," tegas Arwin. Seluruh satelit yang dimiliki Telkom dibuat oleh produsen Amerika Serikat. Biaya total untuk Telkom 2 mencapai US$ 147 juta.
Arwin pernah menjelaskan bahwa kebutuhan satelit di dalam negeri Indonesia masih sangat tinggi. Mulai untuk kebutuhan telepon jarak jauh, telepon seluler, siaran televisi hingga untuk transaksi perbankan.
Ada sekitar 27 satelit asing yang beroperasi di wilayah angkasa Indonesia. Hanya beberapa saja operator satelit milik Indonesia, salah satunya Telkom.
"Permintaan transfonder satelit di dalam negeri terus meningkat. Saat ini, kebutuhan transfonder di dalam negeri sekitar 120 hingga 130 transfonder," katanya beberapa waktu lalu.
Telkom Grup pada 2006 butuh 20 transfonder dan lima lagi pada 2007.
Sebelumnya, Wadirut Telkom Garuda Sugardo mengatakan, peran satelit di Indonesia masih sangat penting mengingat Indonesia adalah negara kepulauan. Satelit bersifat broadcast (cakupan luas) dan cepat, maka dalam mendukung pembangunan, satelit merupakan pilihan teknologi komunikasi yang penting.
Dalam kaitan penetrasi Internet, Garuda mengatakan bahwa karena satelit merupakan sarana transmisi, maka bisa mengirim semua jenis layanan multimedia, di antaranya TV, telepon, video conference dan Internet. Internet sekarang sudah banyak digunakan di ibukota kabupaten, dan berkembang dengan baik misalnya di Merauke, Sabang dan kabupaten-kabupaten lainnya.
Secara bisnis, peluang satelit masih terbuka lebar. "Yang diperlukan sekarang adalah komitmen dan fokus, baik dari sisi operator satelit maupun regulasi," ujar Garuda. (ed)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home