Thursday, April 22, 2004

Anak Usaha Indosat Siapkan Modal Kerja Rp 180 M

Jakarta- Anak usaha PT Indonesian Sattelite Corporation Tbk (Indosat), PT Aplikasi Lintasarta (Lintasarta) menyiapkan modal kerja sekitar Rp 180 miliar untuk tahun 2004 ini. “Kita rencanakan tahun ini kira-kira antara Rp 160 hingga Rp 180 miliar. Sebagian besar untuk investasi penambahan jaringan,” tukas Yoyo W. Basuki, president director Lintasarta, menjawab pertanyaan Investor Daily, kemarin (20/4), di Jakarta.
Ia menjelaskan, sumber pembiayaan untuk investasi tersebut sebagian berasal dari dana internal perusahaan dan sebagian lagi dari perbankan. “Separuhnya kita cari dari perbankan. Kemungkinan dari Bank Niaga atau Bank Mandiri. Saya sih hitung-hitungan bisnis saja, yang paling murah maka kita pilih,” kata Yoyo.
Meski memiliki kecenderungan untuk menerbitkan obligasi, tutur Yoyo, pihaknya belum memutuskan instrumen tersebut. Tahun lalu, Lintasarta menerbitkan obligasi senilai Rp 40 miliar dengan tingkat bunga tetap (fix) 16%. “Selama satu tahun fix 16 persen. Selanjutnya, kita kasih spread 3 hingga 3,5 persen dari deposito tiga bulan 4 bank BUMN,” tambah dia.
Menurut Yoyo, obligasi perseroan adalah obligasi terbatas yang ditawarkan kepada para pemegang saham.
Penambahan investasi tersebut, lanjut Yoyo, seiring dengan peningkatan target pendapatan (revenue) Lintasarta. “Tahun lalu revenue kita sekitar Rp 560 miliar, tahun ini kita targetkan antara Rp 650 hingga Rp 680 miliar. Saya lebih suka memasang target pertumbuhan,” jelasnya.
Saat disingung kabar Indosat akan melepas sahamnya di Lintasarta, Yoyo mengaku belum mendengar hal itu. Namun, ia mengakui banyak kalangan berminat memiliki saham Lintasarta. “Banyak orang yang ingin memiliki Lintasarta. Karena mungkin mereka melihat struktur Lintasarta sudah eksis selama 14 tahun. Dan, Lintasarta juga focus kepada bisnis telekomunikasi,” kata dia.
Pemegang saham utama Lintasarta saat ini adalah, Indosat yakni memiliki 69,46%. Sisanya dimiliki Yayasan Kesejahteraan Karyawan BI, Yayasan Perbanas, Dana Pensiun BRI, Yayasan Kesejahteraan Pegawai BTN, Dana Pensiun BNI, Dana Pensiun BPD DKI Jakarta, Koptel, Kopindosat, Kopkarla dan Kopegtel. (ed)

Tuesday, April 13, 2004

Indosat Berniat Lepas 49% Sahamnya di Camintel, Kamboja

Jakarta - PT Indonesian Satellite Corporation Tbk (Indosat) berniat melepas seluruh kepemilikannya (49%) di Cambodian Indosat Telecommunication S.A (Camintel). Selanjutnya, perseroan fokus kepada penggarapan bisnis telekomunikasi di pasar domestik.
“Kita sedang menawarkan seluruh saham di Camintel kepada calon investor yang berminat. Harapannya dapat dijual tahun ini,” tutur Widya Purnama, direktur utama Indosat, kepada Investor Daily, pekan lalu, di Jakarta.
Soal berapa nilainya, menurut Widya, saat ini valuasinya di Camintel sedang dihitung.
Komposisi kepemilikan di Camintel, selain Indosat adalah pemerintah Kamboja, yakni 51%.
Investasi Indosat di Camintel sudah berlangsung sejak sekitar 10 tahun lalu. Saat itu, kebijakan investasi berdasarkan keinginan perseroan menjadi pemain telekomunikasi regional.
Kini, jelas Widya, perseroan memfokuskan diri pada bisnis telekomunikasi di pasar domestik. “Pasar domestik cukup besar. Saat ini demand lebih besar daripada supply,” tukas dia.
Bisnis inti (core business) masih di bisnis seluler. Tahun 2003, kata Direktur Pemasaran Seluler Indosat, Hasnul Suhaimi, Indsat memperoleh pendapatan Rp 5,6 triliun dari sektor seluler atau sekitar 70% dari total pendapatan tahun 2003. Pendapatan ini meningkat 41% dibandingkan pendapatan Indosat dari sektor yang sama pada 2002 sebesar Rp 3,27 triliun. (Investor Indonesia, 13/2).
Tahun ini, jumlah pelanggan seluler Indosat diharapkan tumbuh 2-2,5 juta nomor sehingga menjadi 8-8,5 juta nomor hingga akhir 2004.
Kembali soal Camintel. Jika penjualan terealisir, berarti tahun ini perseroan akan melepas dua kepemilikan sahamnya. Pekan lalu, Widya juga sempat melangsir bahwa pihaknya sedang menjajaki penjualan 96,87% sahamnya di PT Sisindosat Lintasbuana. “Kita sedang mengurangi bisnis di luar fokus utama bisnis perseroan,” tegas Widya.
Tahun ini juga perseroan telah merampungkan penjualan saham di beberapa perusahaan afiliasi. Pada 20 Januari 2004, perseroan telah melepas kepemilikannya di PT Mitra Global Telekomunikasi Indonesia (MGTI). Indosat telah menerima pembayaran sebesar US$ 57,3 juta untuk porsi 30,55% saham di MGTI. Selain itu, pada 15 Maret 2004 perseroan telah menerima pembayaran US$ 24 juta dari pelepasan saham di PT Pramindo Ikat Nusantara kepada Telkom. Untuk transaksi ini, merupakan rangkaian dari pelepasan tahun 2003, dimana perseroan melepas 55% saham di Pramindo kepada Telkom. Pada 15 Desember 2003 perseroan menerima pembayaran US$ 4,2 juta.
Indosat juga telah mendivestasikan 396.610 lembar sahamnya di Inmarsat dan PT Yasawirya Tama Cipta (YTC), perusahaan multimedia yang bergerak di bidang jasa komunikasi video, audio visual, dan materi siar bagi siaran televisi.
Tahun ini, kata Widya, target pendapatan perseroan diperkirakan menembus angka Rp 10 triliun. “Untuk laba bersih, kita harapkan bisa lebih besar dari tahun 2003,” katanya. Guna mendukung target tersebut, perseroan menambah jaringan layanan seluler. Sedangkan untuk bisnis fix wireless access (FWA) perseroan akan membangun 1 juta kapasitas terpasang. Tahap awal, perseroan menyiapkan investasi US$ 40 juta.
Tahun lalu, pendapatan operasi Indosat meningkat 21,7% yakni dari Rp 6,76 triliun (2002) menjadi Rp 8,23 triliun. Untuk laba usaha, meningkat 24,7% menjadi Rp 2,33 triliun dari Rp1,87 triliun (2002). Perseroan membukukan peningkatan laba bersih 366,9% pada tahun 2003 yakni dari Rp 336,3 miliar (2002) menjadi Rp 1,57 triliun. (ed)



Thursday, April 01, 2004

Laba Bersih Indosat Tumbuh 366,9%

PT Indonesian Satellite Corporate Tbk/Indosat (ISAT) berhasil menaikan pendapatan usahanya sebesar 21,7%. Yaitu dari Rp 6,767 miliar pada kuartal IV/2002, naik menjadi Rp 8,235,3 miliar pada kuartal yang sama di 2003.


Jakarta, Investor
Laba bersih PT Indonesian Satellite Corporate Tbk (Indosat), sepanjang tahun 2003 tumbuh 366,9%. Hal tersebut terlihat pada laporan keuangan konsolidasi yang telah diaudit untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2002 dan 2003, yang juga telah disampaikan ke Bapepam.
Menurut siaran pers yang dikirimkan VP Hubungan Masyarakat PT Indonesian Satellite Corporate Tbk, Andir Tambunan ke redaksi Investor Indonesia kemarin (31/3), laba bersih perseroaan memang mengalami kenaikan pada 2003. “Pada 31 Desember 2003, laba perusahaan mengalami kenaikan yang cukup baik, yaitu sebesar 366,9%. Pada kuartal IV/2002, laba bersih hanya mencapai Rp 336,3 miliar. Namun pada kuartal yang sama di 2003 dapat mencapai Rp 1,570,0 miliar,” ujarnya.
Perusahaan lanjut Andir, juga berhasil menaikan pendapatan usahanya sebesar 21,7%. Yaitu dari Rp 6,767 miliar pada kuartal IV/2002, naik menjadi Rp 8,235,3 miliar pada kuartal yang sama di 2003. “Itu diperoleh dari jasa seluler, SLI, dan MIDI, yang masing-masing memberikan kontribusi sebesar 62,1%, 22,0%, dan 14,9%. Sedang sisanya sebesar 1,0% dikontribusi oleh pendapatan lainnya,” jelasnya.
Selain itu total pelangan seluler kata Andir, tercatat sebanyak 5,96 juta pada akhir Desember 2003. Hal itu, memperlihatkan pertumbuhan sebesar 66,4% dibandingkan tahun lalu (2002). “Bisnis seluler Indosat sendiri mencatat penambahan jumlah pelanggan bersih sebesar 2,38 juta di 2003 lalu,” ujarnya.
“Total trafik SLI melalui 001 dan 008 juga mengalami peningkatan sebesar 19,0% di 2003 dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan naiknya trafik incoming dan memperkenalkan SLI 008 sebagai jasa SLI dengan tarif yang lebih murah,” lanjut Andir.
Sementara itu, Direktur Utama PT Indosat, Widya Purnama mengungkapkan rasa gembiranya dengan hasil yang diperoleh perseroaannya pada tahun buku 2003 tersebut. Setelah dilakukannya penggabungan usaha Satelindo dan IM3 ke dalam Indosat.
“Kami senang dengan hasil usaha tahun lalu (2003), yang memperlihatkan pertumbuhan bisnis seluler yang sangat besar serta kinerja keuangan yang sangat baik. Bahkan kita telah membukukan tingkat pajak efektif yang lebih rendah,” ujarnya. (c43)